KH. AHMAD QORI NURI




Penulis masuk Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah sekitar Juli 1996. Artinya, angkatan kami dan seterusnya adalah para santri yang tidak sempat bertemu langsung dengan KH. Ahmad Qori Nuri (Kyai Qori), pendiri dan Mudir Awwal Al-Ittifaqiah. Beliau lahir pada 1911 dan wafat pada 11 April 1996/22 Dzulqodah 1416 H. Karena itu, gambaran tentang sosok beliau hanya kami ketahui melalui cerita dari para kyai, ustadz/ustazah, dan alumni yang mengalami masa belajar dengan Kyai Qori. Dan terutama sekali, kami dengar dari KH. Mudrik Qori (Mudir Al-Ittifaqiah 1998-Sekarang) dan keluarga Kyai Qori. Kami pun mengenal beliau, hanya melalui sebuah foto yang terpanjang di kantor Mudir. 

Kini setengah abad lebih usia Al-Ittifaqiah, tehnologi semakin maju kehidupan terus berubah, dan pondok semakin berkembang pesat. Di tengah inovasi yang semakin menjadi tuntutan, secara alamiah tumbuh kerinduan kepada Kyai Qori dan para pendiri, pejuang, pendahulu pondok. Kerinduan yang tak semata nostalgia, tetapi kerinduan akan nilai-nilai yang relevan untuk terus dihidupkan dalam konteks kekinian Al-Ittifaqiah. Kerinduan yang terkespresikan dalam Haul ke-23 Fadhilatussyekh KH. Ahmad Qori Nuri pada hari 22 Dzulqodah 1439 H/4 Agustus 2018.

Menariknya, Haul ini bisa dibilang yang pertama dilakukan, setidaknya yang terkabarkan. Tentu saja mendo'akan dan berziarah kepada para pendiri dan penjuang pondok selama ini terus dilakukan, terutama pada momen tertentu seperti menjelang Haflah dan Wisuda Santri. Tetapi kali ini berbeda. Maka ada juga bertanyaannya, mengapa Haul ini tidak dilakukan sebelum-sebelumnya? Misalnya pada 2011, dapat diperingati sebagai 100 tahun Kyai Qori, bukan dua dasawarsa tetapi 23, dan seterusnya. 

Tulisan ini tentu tidak berkmaksud menjawab pertanyaan terebut, tetapi rasanya penting bagi alumni sebagai bagian dari pondok untuk ikut ambil bagian dalam momen langka ini—walau tidak melaui kehadiran secara fisik. Peringatan Haul Kyai Qori tahun ini, bagi penulis setidaknya mempertemukan “tiga kerinduan”. 

Pertama, kerinduan filosofis atau “kearifan Al-Ittifaqiah.” Secara kelembagaan, penting bagi Al-ittifaqiah untuk menghadirkan kembali nilai-nilai dasar yang disemaikan sejak pertama kali pondok didirikan. Mengikuti rumusan para peneliti, seperti Zamakhsyari Dhofier (1985), Manfred Ziemek (1986), dan Mastuhu (1999), bahwa sebagai pendiri dan pimpinan awal Al-Ittifaqiah, Kyai Qori merupakan faktor inti dan figur sentral yang meletakkan dasar dari nilai-nilai, bentuk, tradisi, dan ciri khas Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah. Dari sisi ini, Kyai Mudrik (selanjutnya disebut Mudir) menggambarkan bahwa Kyai Qori merupakan sosok ulama yang mempunyai integritas tinggi dan konsisten, tetapi juga berpikiran modern dan berwawasan luas. Dalam diri beliau berpadu antara konsistenti terhadap tradisi salaf dan khalaf sekaligus. 

Mudir sendiri pernah menelusuri tradisi periode awal Al-Ittiaqiah pada masa Kyai Qori. Seingat penulis, antara lain dari Kyai Rozali dan Kyai Amar, Mudir mendapatkan daftar bacaan surah-surah pendek untuk mengimami shalat lima waktu, juga do’a dan zikir yang rutin dibaca para santri dari kertas tulisan tangan asli Kyai Qori. Dengan begitu, meskipun ruang untuk mekakukan improfisasi—untuk mengganti surah atau ayat yang dibaca dalam shalat misalnya—sangat terbuka lebar, namun keberadaan daftar tersebut menjadi penting sebagai dasar dari tradisi amaliah santri yang khas di Al-Ittifaqiah. 

Sebagai perumpaaan, ketika seorang santri membaca Al-Qur’an dengan dilagukan (nagham al-Qur’an), maka kekhasan dari “cengklok” (variasi) lagu-lagu Al-Ittifaqiah sangat terasa dan mudah dikenali, bahkan oleh masyarakat di luar Al-Al-Ittifaqiah. Karena dasarnya, sejak dulu yang dipelajari dan diajarkan merujuk kepada variasi lagu dari Syekh Mustafa Ismail. Rasaya begitu pula dengan penyesuaian terhadap perubahan kurikulum dan bahan ajar yang digunakan di pondok.

Nilai-nilai dasar yang "disemaikan" Kyai Qori ketika mendirian dan memimpin pondok, dapat diaktualisasikan sebagai pijakan bagi pondok untuk melakukan transformasi institusi dalam merespon berubahan yang dihadapi hari ini sekaligus bersiap menyambut tantangan masa depan. Inilah bagi penulis yang membuat perubahan yang dilakukan tidak tercerabut dari tradisi, tetapi merupakan kesinambungan dan kelanjutan dari tradisi yang ada (almuhafazah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-ahzu bi al-jadid al-ashlah). Secara empiris, sebagai pesantren yang memiliki hubungan cukup intens dengan Jepang, Al-Ittifaqiah dapat mengambil spirit dari Restorasi Meiji dimana meski perubahan besar-besaran terjadi dengan Jepang tetap mampu menjaga tradisi leluhurnya. 

Kedua, kerinduan emosional. Istilah “Ibu Kandung” yang melekat bagi pondok dengan sendirinya menempatkan para santri sebagai anak-anak yang diasuh dan dibesarkan ibunya; Al-Ittifaqiah. Inilah yang membangun ikatan batin, rasa ta’zim (hormat), dan rasa cinta santri dan alumni kepada para kyai dan guru di pondok. Diadakannya Haul tentu mempererat ikatan batin antara santri dan alumni dengan pondok serta para kyai dan guru, terutama sekali dengan Kyai Qori. Bagi para alumni yang memang memiki kesan mendalam, tentu momen ini dapat semakin menghangatkan kecintaan kepada sosok kyai yang dikaguminya. 

Ekspresi dari kerinduan ini dapat kita rasakan dari pengakuan Ahmad Karmansyah, dalam Satu Cerita di Al-Ittifaqiah; Catatan Para Alumni (2017). Dalam buku ini, Karmansyah mengungkapkan keharuan takkan terlupakan ketika dirinya menjadi satu-satunya santri “dari generasi terakhir” yang menyaksikan dari dekat saat-saat Kyai Qori wafat. Dari Khairul Nadi kita lebih dapat merasakan ikatan batin sangat pribadi dan begitu kuat dengan Kyai Qori. Betapa dirinya sering sekali bermimpin bertemu dengan Kyai. Hubungan ini rupaya berawal dari ketika ia masih menjadi santri, selalu membantu berbagai pekerjaan di rumah Kyai. Baik Karmansyah maupun Hairul dua generasi alumni yang memiliki kesan dan kecintaan yang mendalam dengan Kyai Qori. Boleh dikatakan sebagai anak-anak ideologis Kyai Qori yang kecintaanya kepada beliau tetap terpatri di dalam hati dan memori. 

Selanjutnya yang ketiga, kerinduan konseptual. Hal ini dirasakan oleh para santri dan alumni yang memang secara fisik tidak pernah bertemu dengan Kyai Qori. Kesan mereka tetang sosok Kyai Qori lebih sebagai dibangun dari cerita dan nilai-nilai yang mereka dengar tentang Kyai Qori. Dan, untuk "mendekati" Kyai mereka mau tidak mau harus “kembali ke masa lalu” menyusuri jejak perjalanan Kyai Qori, terumasuk perkembangan pondok periode awal, yang sampai sekarang belum terdokumentasikan secara utuh, baik tulisan maupun visual. 

Ketiadaan media/dokumen yang merekam gambaran hidup Kyai Qori dan periodesasi sejarah Al-Ittifaqiah, rasanya tidak sekadar penting tapi kini semakin diperlukan. Pada 2008 misalnya, Ust. Muhyidin AS bermaksud meneliti tentang “Pemikiran Kyai Qori dalam Pembaharuan Pesantren di Sumatera Selatan.” Tetapi penelitian ini tidak bisa dilanjutkan karena terkendala ketiadaan sumber primer yang menjadi syarat penelitian yang diajukan sebagai tesis di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Padahal sekitar pertengahan 1970an, penelitian pertama tentang “Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah” sudah dilakukan oleh Kyai Moechlies Qorie dalam skripsinya di IAIN Raden Fatah Palembang. Sayangnya dokumen ini belum bisa ditemukan, sampai sekarang. 

Meski demikian, berbekal dokumen yang sangat terbatas, yaitu Profil Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, generasi Al-Ittifaqiah yang tak sempat berjumpa fisik dengan Kyai Qori justru termotivasi dan terinspirasi untuk menelusuri sejarah Al-Ittifaqiah, termasuk sosok Kyai Qori melalui penelitian secara akademis.   

Kerinduan konseptual genrasi ini, antara lain telah menggugah Jimi Ismail untuk meneliti “Peranan KH. Ahmad Qori Nuri dalam Pendidikan Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan” dalam skripsinya di STITQI pada 2012. Dalam lingkup berbeda Eko Arisandi menulis tentang “Kepemimpinan Mudir Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralata Ogan Ilir Sumatera Selatan” di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2011. Dan sebelumnya, Muhammad Iqbal telah lebih dahulu meneliti “Pengaruh Kharisma Kyai Terhadap Mental Kegamaan Santri: Studi di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2005. 

Kebutuhan akan media tertulis tentang Kyai Qori dan Al-Ittifaqiah ini mendapat "angin segar," dengan hadirnya buku Kyai Mudrik Qori, Semesta Al-Ittifaqiah; Refleksi dari Bilik Pesantren. Buku yang ditulis bertepatan dengan peringatan Setengah Abad Al-Ittifaqiah pada 2017 ini, pada bagian awal secara khusus mengulas tentang perjalan kehidupan, keteladanan, dan kepemimpinan Kyai Qori. 

Melalui tulisan Mudir, kita menemukan Kyai Qori sebagai sosok ulama pembelajar sejati,  cerminan keikhlasan, pejuang dan pengabdi paripurna. Separuh hidup beliau dihabiskan total untuk dakwah dan pendidikan Islam; “rumah pengabdian” beliau yaitu Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah. 

Sepanjang hidup, Kyai Qori bahkan tidak sempat berpikir untuk memperbaiki rumah beliau yang bocor dan reyot. Bahkan ketika Mahidin Tambi seorang pengusaha menawarikan untuk merenovasi rumah yang baginya sangat tidak layak untuk seorang ulama berpengaruh seperti Kyai Qori, justru beliau tolak. Kyai menyarankan agar niat baik Mahidin itu agar dibangunkan untuk pondok. 

Demi pondok, Kyai Qori bahkan tidak memikirkan bagaimana mencukupi kebutuhan hidup keluarga, tetapi beliau tidak bisa tidur dan gelisah berikhtiar untuk memenuhi kebutuhan pondok; gaji guru, perlengkapan santri, bangunan pondok, dll. Dan, kalau ada orang yang datang bertamu, Kyai Qori akan selalu minta segera dihidangkan makan dan minum. Nyai Ghuzlani pun pernah sampai mengeluh, karena sering makanan yang dihidangkan tadinya persediaan yang hanya cukup untuk dimakan sekeluarga.

Baik penelitian maupun buku yang ada, tentu baru langkah awal. Dari sini dapat menjadi referensi bagi para peminat yang ingin meneliti, menulis novel, atau mengangkatknya menjadi film tentang Kyai Qori. Ditanyangkannya acara Haul melalui TV Al-Ittifaqiah, rasanya sebagai pertanda harapankan ini semakin dekat terwujud.

Terakhir, penting untuk dicatat bahwa upaya mengalirkan “mata air keteladan” dari Kyai Qori secara mendasar telah diinternalisasikan dalam tata kelola dan tata kinerja pondok. Bahwa para insan Al-Ittifaqiah dalam segala gerak dan langkahnya senantiasai dilandasi spirit keberkahan untuk “hanya tujuan beribadah dan mengabdi kepada Allah Swt.” Wallahu 'alam.*

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

HERMAN HIDAYAT: Peneliti Ahli Politik Ekologi Jebolan Ushuluddin

ASEP SHOLAHUDDIN: Muazzin dari Ciputat