HERMAN HIDAYAT: Peneliti Ahli Politik Ekologi Jebolan Ushuluddin
Gedung
Herbarium Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jl. Juanda No. 22 Bogor.
Terlihat dari aritekturnya, gedung berlantai empat ini telah cukup berusia. Terletak
berseberangan dengan pintu samping Istana Bogor dan pintu 2 Kebon Raya Bogor, di
sanalah tempat Prof. Herman Hidayat, Ph.D berkantor saat ini. “Sebentar lagi
kami akan pindah ke gedung LIPI Widya Graha di lantai 9, di sana lebih luas.
Seperti inilah kantor peneliti”, katanya sambil tersenyum saat ditemui Jurnal Wisuda sore itu
(23/1/2015) di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PPKK) LIPI.
Dari
menja kerjanya yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas kerja, ia memperlihatkan Journal
of South Pacific Studies Vol. 34(2) Kagoshima University yang memuat
tulisannya berjudul “Papua’s Threatened Forests: Conflic of Interest Government
versus Local Indigenous People”. Selain menulis di sejumlah jurnal
internasional dan pembicara dalam seminar-seminar internasional Herman adalah salah
seorang reviewer jurnal ilmiah seperti Journal Society and Natural
Resources, Elsaver; Journal of Forest Science, Kangwon National
University, South Korea and International Tropical Forest Institute, University
of Sabah-Malaysia; dan Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, Litbang
Kementerian Kehutanan.
Pria
kelahiran Losari Cirebon, 10 November 1956 ini, lebih dari sepuluh tahun telah
melakukan penelitian tentang permasalahan kebijakan kehutanan yang diterapkan
pemerintahan pada masa Orde Baru sampai era Reformasi, serta dampaknya bagi
kerusakan lingkungan dan marginalisasi ekonomi masyarakat. Dan, pada 15
Desember 2014, ia dikukuhkan sebagai Professor Riset Bidang Sosiologi oleh LIPI.
“Masyarakat yang menggantungkan kehidupan dan mata pencaharian kepada sumber
daya hutan luas sekali. Dari 30,02 juta penduduk miskin pada 2011 menurut data
PBS, sekitar 12 juta jiwa tinggal di sekitar hutan yang tersebar di 32 provinsi
dan 19.410 desa” ungkapnya.
Dalam
orasi pengukuhan berjudul “Tinjauan Sosiologi Pengetahuan Hutan dan Hutan Tanam
Industri (HTI) dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”, ia merekomendasikan
agar kebijakan pemerintah tentang pengelolaan hak penguasaan hutan (HPH) dan
hutan taman industri (HTI) harus berbasis pada partisipasi masyarakat dan
interaksi sosial yang didukung oleh tiga pilar utama, yakni layak secara
ekonomi, sosial, dan ekologi.
Profesor
yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Gontor ini mengungkapkan, pemerintah
Orde Baru menerapkan kebijakan dalam sektor
kehutanan yang berfokus pada konsep pokok, yakni hutan sebagai sumber alam yang
dapat diperbaharui. Kebijakan tersebut berdampak pada pembalakan kayu log yang berlebihan untuk diekspor dalam
memperoleh devisa. Akibat dari pembalakan log
yang tidak disertai dengan peraturan penegakan prinsip-prinsip ekologi dan konservasi, mengakibatkan terjadi deforestasi, kebakaran hutan, banjir dan erosi tanah. Implikasi
sosial banyak terjadi dalam kasus konflik lahan, sehingga berakibat
marginilisasi ekonomi masyarakat.
Selain
itu, masyarakat tidak mempunyai akses dan tidak mendapat izin untuk pengelolaan
HPH dan HTI dari pemerintah. Karena pemerintahan Orde Baru tidak mengakui hak
ulayat/adat yang diklaim oleh masyarakat lokal. Pada era Reformasi, tumbuh
harapan baru bagi masyarakat dengan lahirnya
pengakuan hak ulayat/adat masyarakat
lokal sesuai dengan Undang-undang No. 41/1999. Dan, diterapkannya konsep sosiologi, yakni partisipasi dan
interaksi sosial oleh pemerintahan melalui Kementerian Kehutanan yang
menyatakan bahwa ‘hutan adalah untuk kesejahteraan rakyat’.
Maka
ke depan, pemerintah harus memperhatikan pengelolaan hasil hutan, baik kayu
yang diperuntukan untuk kebutuhan industri kehutanan maupun hasil non kayu
seperti rotan, buah-buahan, madu,
tanaman obat dan sebagainya adalah pendapatan tambahan yang dapat menguntungkan
untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Di samping itu, dari
sisi sosial ialah frekuensi konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan
dapat menurun. Sedangkan dari perspektif
ekologis, upaya membangun program reforestasi dan model konservasi ‘Arboretum’ untuk menjaga dan mengembangkan
keanekaragaman hayati, flora dan fauna harus
digiatkan bagi perusahaan-perusahaan besar yang memperoleh izin HPH dan HTI dan
melibatkan partisipasi dan interaksi sosial dengan masyarakat lokal.
Anggota
Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) yang bersahaja ini menceburkan dirinya dalam
dunia penelitian sejak masuk LIPI pada 1984. Sebagai peneliti, ia telah
mempublikasikan lebih dari 50 karya tulis ke dalam buku, monograf, dan jurnal
ilmiah nasional dan internasional. Selain itu, tidak kurang dari 153 artikelnya
dimuat di koran dan majalah sejak 1983. “Tradisi menulis dan semangat
penelitian saya, mulai terasah sejak saya masih menjadi mahasiswa di IAIN
Jakarta. Dasar inilah yang terus saya kembangkan saat ini ”, akunya. Ia juga
pernah menjadi staf editor tamu bidang sosial dan budaya di Koran Pelita pada
1987-1991.
Suami
dari Dr. Yaniah Wardani ini adalah lulusan 1982, Fakultas Ushuluddin IAIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. “Saya masuk IAIN Jakarta tahun 1976, teman satu
angkatan saya antara lain Prof. Din Syamsuddin dan Prof. Azyumardi Azra, kami wisudanya
sama”, kenangnya. Sewaktu menyelesaikan studi sarjana di Jurusan Perbandingan
Agama, Herman dibimbing oleh pakar Ushuluddin Prof. Karel Steembrink dari
Universitas Neimegen-Belanda yang saat itu menjadi tenaga pengajar di IAIN
Jakarta.
“Tak
terasa saya sudah 30 tahun bekerja di LIPI”, ungkapnya, ketika ditanyakan bagaimana
perjalannya masuk ke LIPI. Setelah lulus dari IAIN Jakarta, bersama Azyumardi
Azra, Herman memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai staf peneliti di LIPI.
Mereka berdua kemudian dinyatakan lulus di Lembaga Riset Kebudayaan Nasiona
(LRKN) di mana Dr. Alfian menjadi direkturnya saat itu. Namun, Azyumardi yang
waktu itu masih tetap bekerja sebaga wartawan Majalah Panji Masyarakat, mendapat
teguran dari Dr. Alfian. Akhirnya, Azyumardi menyatakan keluar dari LRKN,
kembali ke kampus IAIN kemudian mendapat beasiswa Fulbright dan melanjutkan
studi di Columbia University. Dan, tinggallah Herman yang tetap tinggal dan melanjutkan karirnya di
LIPI yang kala itu berada di deputi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemasyarakat
(IPSK) di bawah LRKN.
Dalam
kurun 1985-1987, karir Herman sebagai peneliti di LIPI dimulai dengan penelitian
tentang kajian politik parlemen Indonesia. Penelitian yang dilakukannya antara
lain tentang Fungsi Parlemen DPR dalam Teori dan Praktek (1945-1950), Fungsi
Perwakilan dalam Sejarah: Studi Tentang Volksraad/DPR Zaman Belanda, dan Parlemen
RIS dan Suasana Politik yang Melatarbelakanginya. “Penelitian ini
sebenarnya sangat akrab dengan kami, karena mirip dengan studi-studi tentang
kekuatan politik yang kami pelajari semasa di IAIN Jakarta waktu itu”, jelasnya.
Pada 1986, ia pun mengajar mata kuliah Politik Indonesia dan Pemikiran Politik
Islam di Fakultas Sosial dan Politik Universitas Nasional, Jakarta, sampai
1996. Dan sejak 2013, ia mengajar Politik Lingkungan untuk mahasiswa program
doktor di Pascasarjana universitas yang sama.
Sampai
kemudian pada 1988, terjadi restrukturalisasi di LIPI. Kelembagaan LRKN
kemudian dibagi menjadi dua yaitu Pusat Penelitian Politik bagi peneliti yang memiliki
latar belakang politik dan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan bagi
yang memiliki background pendidikan sosiologi dan antropologi. Dan di lembaga
terakhir inilah, Herman ditempatkan. Dari sini, Herman kemudian diperkenalkan
dengan satu bidang yaitu masalah masyarakat dan hutan. Sejak saat itulah,
politik ekologi dan kebijakan kehutanan menjadi bidang keahlian yang
ditekuninya hingga sekarang.
Mendalami
bidang yang ditekuninya, Herman tidak berpuas hati dengan meraih gelar Ph.D
pada 2004, dari Laboratory Foresst Policy, Departement of Forest Science,
Graduate School of Agricultural and Life Science, The University of Tokyo,
Japang. Ia terus menjelajah semakin
dalam dengan mengambil visiting research di Kyusu University, Fukuoka,
Japan (1991-1992), visiting fellow IDE-JETRO Makuhari, Chiba Ferecture
(2006-2007) postdoctoral fellow research di CSEAS Kyoto Universty (2008-2010),
research fellow di FMSH Paris (2011), dan visiting fellow Kagoshima
Universty Risearch Center for Pacific Island, Japan (2012-2013); dan visiting
fellow di Cornell University (2014). Ditambah lagi sederet daftar
pengalaman penelitian yang dilakukannya sejak 1985 sampai sekarang. Keseriusannya
inilah yang menisbahkan dirinya sebagai satu-satunya alumni UIN Jakarta yang
ahli dalam bidang politik ekologi dan kebijakan kehutanan.
Komitmennya
dalam bidang tersebut, memawanya terlibat dalam Forest Community Association in
Tokyo, Japan sejak 2000. Beberapa tulisan monografi, antara lain Pulp and
Paper Industries in Japan and Indonesia: From the Viewpoint of Political Ecology;
Plantation Forestry to Pulp and Paper Industry: France and Japan; In Search of Sustainable
Plantation Forestry; Pulp and Paper in ASEAN: Political Ecology Analyses on
Stakeholders; dan Sustainable Forest Management in the United
State: A Case Study of New York State. Tulisan-tulisan anggota tim
penasehat Persatuan Pelajar Indonesia
(PPI) Cabang Kyoto, Korda Kansai Jepang (2008-2010) ini telah pula dimuat
dalam beberapa buku, antara lain Decentralization of Forest Policy in
Indonesia; Certification of Forest Products; Natural Recourses: A Study of
Forest and Fishing Products in Aru Island-Southeast Maluku; Forest Policy in
the Administration of Soeharto Period; Modernization of Meji: A Study of
Japaneses Modernizers; dan Discover of Japan: Words, Costoms and
Concepts.
Sementara
buku yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia yaitu Politik Lingkungan:
Pengelolaan Hutan Masa Orde Baru dan Reformasi (2008) dan Politik
Ekologi: Pengelolaan Taman Nasional dalam Era Otonomi Daerah (2011). Yang
pertama merupakan terjemahan dari disertasinya Forest Resources
Management in The Soeharto Government and Reformasi Era: Political Ecology
Analysis yang dalam waktu dekat akan diterbitkan oleh Springer Publisher,
Singapore. “Saya sendiri tidak menduga setelah sepuluh tahun, Springer meminta
naskah itu untuk diterbitkan. Dan untuk itu, saya telah melakukan revisi serta
menambahkan sekitar 6 chapter dari 12 chapter dalam edisi asli” jelasnya,
sambil memperlihatkan naskah disertasinya.
Ketika
ditanya pandangan tentang perkembangan UIN Jakarta saat ini, Herman mengungkapkan
bahwa harus diberikan apresiasi perubahan IAIN menjadi UIN. Di bandingkan
kampus-kampus lain, UIN Jakarta telah melakukan gebrakan paling awal dalam
perubahan institusi. Hal ini tentu tidak terlepas dari leadership dan networking
yang luas pimpinan UIN Jakarta. “Diharapkan perubahan ini juga dibarengi dengan
peningkatan sumber daya manusianya”, ujar ayah tiga anak ini.
Selanjutnya
ia menjelaskan bahwa dalam upaya peningkatan SDM ini, UIN harus melakukan
infestasi jangka panjang dengan membuka kesempatan bagi lulusan dan dosen UIN untuk
dapat melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Harus pula dilakukan pendataan
tentang jumlah rasio mahasiswa dan dosen untuk lima tahun ke depan. Selain itu,
UIN harus meningkatkan dan mendorong terbitnya jurnal-jurnal yang berkualitas sebagai
sarana mempublikasikan hasil penelitian dan karya ilmiah. Karena harus diakui bahwa,
saat ini masih sedikit jurnal ilmiah yang dimiliki UIN Jakarta yang bertaraf
internasional. Baik yang berbahasa Inggris, bahkan belum ada untuk yang berbahasa
Arab.
“Untuk
itu, perlu dilakukan perubahan mindset yang revolusioner. Inilah saya
kira tantangan yang harus dijawab oleh Rektor baru ke depan”, ungkapnya.

Comments
Post a Comment