SETENGAH ABAD AL-ITTIFAQIAH: Pemetaan Potensi Alumni
Menyambut kelahiran putrinya,
Ahmad Yurzan Zaldi seorang alumni Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah dan lulusan Universitas Al-Azhar Kairo,
Mesir, menulis pesan singkat melalui whatsapp:
“Selamat datang
putriku tercinta. Tepat di pagi Jum’at yang barakah ini jam 08.00
WIB, tanggal 29 Syaban 1436 H dengan
berat 2,9 kg dan panjang 50 cm. Aīzuka bikalimāh Allah al-tāmmah min al-syaithān
wa hāmmah min ‘ainun lāmmah. Ya Allah jadikanlah putri yang telah Engkau
titipkan kepada hamba sebagai pandangan mata hamba yang selalu membahagiakan
saat sedih datang dan mengingatkan hamba saat diuji kenikmatan serta jadikanlah
ia orang yang Engkau pilih untuk menabur kebaikan”.
Tulisannya pukul 08.27 pagi itu,
tergambar dengan jelas perasaan suka cita karena putrinya lahir dengan selamat
dan sehat. Rasa syukur pun ia panjatkan kepada Allah dengan do’a penuh harapan
agar sang buah hati sebagai amanah (titipan) kepadanya itu dapat membahagiakan
kedua orang tuanya dalam keadaan suka dan duka, serta menjadi manusia yang baik
dan bermanfaat dalam kehidupan di masa depan. Suka cita itu semakin terasa
getarannya bila dilihat dari keresahan dan kecemasan yang tak bisa ditutupinya menjelang
detik-detik persalinan. Pada 07.25, empat puluh lima menit sebelum putrinya
lahir, Yurzan menulis pesan singkat, “Para guruku, senior, kakak, rekan, dan
adek kelas. Mohon do’anya semua untuk kemudahan dan kelancaran dalam proses
persalinan istri saya. Sukron. Wa jazākum Allah khair al-jazā`a.”
Meski dapat diduga, persalinan di
Rumah Bersalin Bunda Fatimah Lemabang Palembang itu tentu ditangani langsung
oleh para dokter ahli kandungan dan perlengkapan medis yang memadai. Tetapi karakter
santri yang melekat dalam dirinya, membuat Yurzan memaknai peristiwa persalinan
pagi itu secara spiritual. Betapa tidak, pada detik-detik itulah sebenarnya
pertaruhan antara hidup dan mati, istri dan anaknya. Tentu saja, Yurzan bukan
tidak percaya pada kemampuan dokter atau kecanggihan peralatan medis, namun naluri
kesantriannya meyakini bahwa persitiwa yang sedang berlangsung tersebut berada
di luar kemampuan manusiawi. Di mana hanya “Tangan Tuhan” yang menjadi penentu
utamanya. Karena itu, sekali lagi karena ia seorang santri, secara naluriah ia
mengumpulkan sebesar-besar kekuatan do’a, dari orang-orang yang memiliki ikatan
batin dengannya. Maka, selain kerabat dan keluarga, ia pun memohon do’a dari para
guru, sahabat, kenalan, serta kakak-adik kelasnya di Pondok Pesanten Al-Ittifaqiah,
di mana ia pernah menuntut ilmu di sana.
Ungkapan di atas, tentu lumrah saja
bagi seorang ayah dalam menyambut kelahiran anaknya. Namun dalam kontek Yurzan,
menjadi berbeda karena secara terbuka disampaikannya di sebuah komunitas alumni
Al-Ittifaqiah, yaitu Grup Whatsapp Alumni Bersatu—dibuat pada 13 Oktober
2016, oleh Ari Alhadi teman sekelas Yurzan yang sekarang menjabat Sekretaris
Jenderal PB IKAPPI (Pengurus Besar Ikatan Alumni Pondok Pesantren
Al-Ittifaqiah). Kedekatan emosional dan ikatan batin yang kuat dengan
alamaternya, menumbuhkan kesadaran bagi Yurzan sebagai bagian yang menyatu dengan
keluarga besar Al-Ittifaqiah. Karena itu, ia pun dengan tanpa beban psikologis
berharap seluruh guru, teman, kakak-adiknya di pondok mengetahui dan ikut
mendo’akan kelahiran anaknya; urusan yang sesungguhnya sangat pribadi.
Sikap yang ditampilkan Yurzan menjelaskan
apa yang disebut kalangan santri “pondok sebagai ibu kandung.” Istilah ini
dikembangkan dari konsep “al-‘ūm madrasah al-ulā” (ibu adalah sekolah
pertama). Melalui sistem pondok (asrama) yang menerapkan konsep pendidikan
sepanjang hari (full time school), para santri tidak saja mendapatkan
pelajaran sekolah, tetapi sejak bangun tidur sampai tidur kembali merupakan
proses yang bermuatan pendidikan. Maka pendidikan pondok pesantren, mencakup
pengajaran, pengasuhan, dan pembiasaan sekaligus. Sistem pendidikan seperti ini—seperti
diperlihatkan Yurzan—memungkin para santri untuk memiliki ikatan emosional yang
sangat kuat dengan alamaternya. Yurzan hanya mewakini salah seorang saja dari
tidak kurang 18 ribu alumni yang pernah didik di Pondok Pesantren
Al-Ittifaqiah. Melalui Yurzan sebagai titik berangkat, tulisan ini akan mencoba
mengintip seperti apa hubungan para santri Al-Ittifaqiah dengan pondok setelah mereka
menjadi alumni, secara sepintas akan dilirik pula pola hubungan tersebut dalam
ketegori alumni sebagai upaya menngelar peta potensi para alumni.
***
Konsep pondok sebagai ibu kandung
memang dirasakan para santri sebagai proses pendidikan dan pengasuhan yang
dijalaninya selama di pondok. Lalu bagaimana setelah para santri menjadi
alumni? Setelah lulus dari pondok, para santri memasuki masa pengabdian. Ada
yang mengabdi di pondok, ada pula yang di pesantren, sekolah, atau desa-desa
yang ditentukan dan jaraknya jauh dari pondok. Masa pengabdian santri secara
sepesifik merupakan media untuk mengukur sejauh mana pencapaian pendidikan yang
diperoleh santri selama berada di pondok. Metode ini hampir sama dengan yang
diterapkan di perguruan tinggi melalui magang di beberapa instansi atau kuliah
kerja nyatat (KKN) di desa-desa sebagai kewajiban yang menjadi syarat kelulusan.
Sebelum pengabdian, di
Al-Ittifaqiah sekitar 1998-an, pernah diterapkan progam “praktek mengajar” bagi
para santri kelas akhir tingkat Aliah ke kelas-kelas. Meskipun secara informal,
mereka juga telah terbiasa bergantian memimpin teman-temannya—biasanya oleh
santri yang lebih senior ke kelas yang junior—menghafalkan kata-kata (vocabulary,
mufradat) bahasa Arab dan Inggris dalam kurus singkat bahasa yang disebut daurah
setiap pagi dan sore. Dengan demikian, setiap santri sesungguhnya telah
dibekali kemampuan micro teaching sebagai kemampuan dasar sebagai modal ketika
nanti melaksanakan masa pengabdiannya.
Lebih khusus, para santri juga
dibekali dengan kemampuan praktis (ilmu alat) yang digunakan dalam tradisi
keagamaan di masyarakat, seperti memimpin bacaan Yāsīn, Tahlīl, Marhaba,
azan, bilal jum’at, bilal tarāwih, khutbal, dan memandikan jenazah. Para
santri juga mendapat pelatihan keterampilan pidato (muhadrah), mc (mater
of ceremony), kaligrafi, menjahit; dalam bidang seni antra lain puisi,
drama, rabana, pantomim, musik, dan sebagainya; serta volly ball, takraw, sepak
bola, tenis meja, batmintnon, dan bidang olahraga lainnya. Para santri juga
mendapat pelatihan ngaji lagu (nagham al-Qur’an), di samping
sebagian ada yang menghafal al-Qur’an (tahfizh). Untuk yang terakhir
ini, pondok berhasil melahirkan banyak qāri’ dan hāfizh yang
dikenal luas karena berhasil menjuarai MTQ tingkat nasional dan internasional.
Pelatihan organisasi diperoleh
santri, antra lain melalui OSPI (Organisasi Santri Pondok Pesantren
Al-Ittifaqiah) dan Pramuka. Melalui OSPI para santri senior dilatih untuk
merancang sejumlah kegiatan seperti jurnalistik (majalah diding, buletin,
pelatihan menulis), pekan olahraga dan seni, pekan bahasa, seminar, konfrensi
santri, dan mengikuti berbagai event antar pesantren. Di samping OSPI,
para santri juga mendapat latihan kepemimpinan melalui program mudabbir (kepala
asrama) bagi santri kelas akhir tingkat Aliah. Mereka masing-masing dibagi di
tiap asrama dan bertanggung jawab terkait persoalan ketertiban, kesehatan,
keaktifan, bahkan perkembangan belajar seluruh anggota asrama yang dipimpinnya.
Penugasan ini berlanjut ketika mereka menjadi pengabdi yang disebut dengan musrif
(pembina asrama). Pada fase ini, para pengabdi biasanya sekaligus merangkap
asisten wali kelas, sehingga pelaksanaan kegiatan belajar malam seperti tadarus
al-Qur’an dan muzakarah (mengulang pelajaran), termasuk
penegakan aturan pondok serta proses perizinan santri berada dalam pengawasan
para musrif.
Lebih dari itu, sistem asrama (boarding
school) memungkinkan terjadinya interaksi lintas usia (tingkatan dan
kelas), asal daerah, dan latar belakang sosial. Pertemuan antar bahasa dan
budaya yang dibawa para santri, setelah masuk pondok melebur dan membentuk “budaya
baru” yang khas dan unik, bahkan berbeda sama sekali dengan latar belakang para
santri sebelumnya. Selain itu, interaksi yang intens, telah pula menumbuhkan
ikatan kekeluargaan yang erat di antara para santri, rasa hormat kepada para guru,
dan rasa memiliki yang tinggi terhadap pondok. Pergaulan yang sangat cair dalam
lingkungan pesantren, secara alami membuat para santri mempunyai daya adaptasi
kultural yang tinggi menghadapi berbagai perbedaan, baik yang mereka temui di
pesantren maupun dalam kehidupan di masyarakat.
Selanjutnya, menyelesaikan
pendidikannya di pondok, kemana para santri? Setelah tidak lagi menjadi santri,
seperti apa hubungan para alumni dengan pondok? Pertanyaan ini, menjadi pintu
masuk untuk melihat kecenderungan para alumni yang setidaknya dapat
diidentifikasi dalam empat kategori. Pertama, kategori “alumni pondok-luar
negeri.” Banyaknya alumni yang berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan ke luar
negeri, menjadi salah satu bukti keberhasilan sistem pendidikan yang
dikembangkan di Al-Ittifaqiah. Lebih dari itu, hubungan emosional yang
terbentuk selama santri berada di pondok, tetep terjalin kuat setelah para
santri lulus, dan melanjutkan studi di luar negeri.
Dari sisi inilah, apa yang
diinsafi oleh Yurzan di awal tulisan ini, terbangun kesadaran bahwa sebagai
alumni pesantren dirinya menjadi bagian yang menyatu dengan seluruh keluarga
besar pondok. Yurzan sendiri, sejak masuk pondok pada 1996, kemudian lulus
Tsanawiah 1999 dan Aliah 2002, ia pun pernah menjalani masa pengabdian pada
2003. Artinya, tidak kurang dari tujuh tahun Yurzan berada di pondok, waktu sama
ia habiskan selama menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Mesir. Dan, meskipun
setelah pulang pada 2010, sempat menjadi Kepala Sekolah TPQ PT Freeport Papua,
Yurzan pulang ke Al-Ittifaqiah, mengajar dan mengabdikan ilmunya sampai
sekarang.
Sebelum angkatan Yurzan, tentu
Muhammad Iqbal dan Agus Jaya menjadi dua orang yang membuka pintu bagi para
alumni Al-Ittifaqiah untuk meperoleh beasiswa dan melanjutkan pendidikan di Universitas
Al-Azhar, Kairo, Mesir pada 1996 dan 1997. Baru kemudian para alumni seperti Evi
Yohana, Arfah Nurhayat, Uswatun Hasanah, Adriansyah, Acep Amiruddin, Windo
Putra Wijaya, Nuhdi Febriansyah, Mediansyah, Febrian Zainatul Firdaus,
Iswatumaliha, Iskandar, dan lebih banyak dari angkatan yang lebih muda menyusul
ke Mesir. Di samping itu pada 2001, terbuka peluang untuk memasuki Sudan,
diawali 10 orang alumni yang mendapat beasiswa dari Universitas Khortoum, yaitu
Salamah, Faulia, Maimunah, Fahmi Umar, Bahrum Amir, Tarmizi, Yusika Imanto, Davik,
dan Darsi. Disusun oleh Mantazakka, lalu Uka Arisandi, dan banyak alumni-alumni
lain dari angkatan setelahnya. Selain itu, ada juga yang ke Yaman dengan
berangkatnya Sulastri yang memperoleh beasiswa ke Univesitas Al-Ahqaaf. Dan
sekarang, banyak alumni pondok yang memperoleh beasiswa tidak saja ke Timur
Tengah, tetapi beberapa negara Asia seperti Jepang dan Malaysia, juga Amerika
dan Australia. Dalam sepuluh tahun terakhir, setelah di antaranya ada yang menyelesaikan
S2 dan S3 di luar negeri, pada alumi ini telah pulang dan memperkuat pengembangan
pendidikan di Al-Ittifaqiah.
Ketegori kedua, “alumni
pondok-dalam negeri”. Sedikit berbeda dengan yang pertama, para alumni
melanjutkan pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Sebagai
alumni pondok, umumnya para alumni mengambil studi lanjutan di perguruan tinggi
Islam seperti IAIN/UIN baik di Palembang, Yogyakarta, Jakarta, Malang, dan
Samarinda. Selain dalam bidang kajian Islam, belakangan semakin banyak alumni
yang tidak saja melanjutkan ke kampus umum, tetapi merambah pula bidang-bidang
keahlian seperti kedokteran, kebidanan, keperawatan, sain-teknologi, akuntansi,
dan psikologi. Beberapa nama dapat disebutkan dalam ketegori ini, antara lain Zulfikri,
Akip Umar, Autad Sulaiman, Feri Martedi, Belly Harsandi, Iswardi, Samia, M.
Rafik, Merianti, Ahmad Iqbal, Firdaus Kahfi, Awaluddin, Zaimuddin, Ari Alhadi, Daria,
Hikmah Hayati, dan sangat banyak sekali dari angkatan yang lebih muda yang tak
mungkin disebutkan.
Di samping dua ketegori di atas, dengan
dibukanya STITQI (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Qur’an Al-Ittifaqiah) sejak
2002, para alumni lulusan Aliah dapat langsung melanjutkan pendidikannya di
Al-Ittifaqiah. Fenomena ini menjadi trend baru bagi para alumni,
terlebih sekarang STITQI dalam proses menuju universitas dan progam pascasarjana.
Karena itu, ketegori ketiga, dapat disebut sebagai “alumni murni”
Al-Ittifaqiah.
Untuk menggambarkan tentang kategori
ini, dapat diamati dari Huzairi teman sekelas Yurzan. Sama-sama menyelesaikan
Tsanawiah dan Aliah, kemudian mengabdi di pondok, Huzairi malah memilih untuk melanjutkan
studinya di STITQI. Sebagai pengabdi, ia mendapatkan beasiswa khusus, sembari
kuliah ia pun tetap bisa menjalankan tugas-tugasnya sebagai tenaga pendidik dan
pengurus pondok. Dan menariknya, Huzairi pernah pula mengikuti takhassus sebuah
program khusus yang dirancang pondok untuk mempersiapkan santri-santri yang akan
melanjutkan studi ke luar negeri—di mana Huzairi pernah belajar bersama dua
sahabatnya Yurzan dan Mantazakka, serta kakak-kakak kelas mereka yang kemudian berangkat
ke Mesir dan Sudan.
Penamaan “alumni murni” untuk
ketegori ini cukup beralasan. Karena melalui para alumni inilah yang
sesungguhnya menggambarkan pencapaian output dan outcome sumber
daya manusia dari proses sistem pendidikan yang diterapkan di pondok. Dan,
berbeda dari dua kategori sebelumnya, para alumni ini memiliki nilai plus,
karena keterlibatan mereka yang lebih intens dan continue terhadap
berbagai persoalan dan dinamika yang terjadi dalam lingkungan pondok. Artinya,
para alumni ini merupakan produk asli Al-Ittifaqiah mulai dari jenjang
pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, sehingga bisa dipastikan mereka lebih
mengetahui, merasakan, dan terlibat secara total segala denyut kehidupan di
pondok. Karena itu, sesungguhnya merekalah para alumni yang menjadi “tuan
rumah” di Al-Ittifaqiah.
Secara lebih luas, dapat pula
dimasukkan dalam kategori ini para alumni yang pernah belajar di pondok pada
tingkatan tertentu, bisa Tsanwiah, Aliah, atau STITQI kemudian setelah lulus
mengabdikan diri pondok, menjadi pengajar, pengurus, atau tenaga kependidikan
(sumber daya manusia) pondok lainnya. Beberpa nama bisa disebutkan seperti Muyassarah,
Ani Nafisah, Evi Erianti, Fitriani Taswin, Hestiwidya Astuti, Thuhriyah, Eka
Rahmawati, Melly Asmiti, Zuhairani Yahya, Khotmir Rohi, Siub Rizal, M. Joni
Rusli, Devitson, Ali Sodikin, Awaluddin, dan Arman Sudianto para ustadzah dan
ustadz senior serta jajaran pimpinan pondok, termasuk Nungcik, Ardeni, Jimi
Ismail, dan lebih banyak lagi nama dari angkatan yang lebih muda. Para alumni
ini rata-rata telah melanjutkan studi pascasajana, bahkan di antaranya telah
meraih doktor, sehingga menjadi perpaduan dari ketiga ketegori di atas. Poinnya
bahwa tumbuh kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi dan upaya terus-menerus
meningkatkan kompetensi dan pengalaman, terlebih mereka sebagai “ujung tombak”
dalam proses pendidikan, pengasuhan, dan pengembangan pondok.
Selanjutnya, berbeda dengan
ketiga ketegori sebelumnya yang bergerak di pondok (alumni in pondok),
para alumni kategori keempat ini dapat disebut dengan “alumni for pondok”
atau “alumni-luar pondok”. Mereka para alumni yang setelah lulus, ada yang
melanjutkan pendidik di luar, kemudian berkiprah dalam berbagai bidang
pengabdian di masyarakat. Cek Daus menjadi contoh yang paling tepat untuk
kategori ini. Ia lebih dikenal masyarakat sebagai selebritis karena sering
muncul di televisi. Dilihat dari profesi yang ditekuninya, bisa dipastikan
tidak ada yang menduga kalau Cek Daus adalah lulusan pondok pesantren. Namun, tak
diragukan bahwa para alumni seperti Cek Daus punya rasa memiliki, perhatian,
dan komitmen yang tinggi untuk berkontribusi dan berperan aktif dalam seluruh
upaya mengembangkan dan memajukan Al-Ittifaqiah, sesuai kapasitasnya masing-masing.
Termasuk dalam ketegori ini para alumni
yang meniti karier dalam berbagai bidang seperti tenaga pendidik (guru, kepala
sekolah, guru mengaji, pimpinan pesantren), tokoh agama (da’i), birokrat
(pegawai negeri, TNI, Polri) profesi (wartawan, hakim, pengacara, perawat,
dokter, bidan), politisi (pengurus/pimpinan partai, anggota DPR/DPRD), swasta
(pengusaha, konsultan, pegawai), pemberdayaan masyarakat (pedang, pertanian,
perkembunan, peternakan, kerajinan), dan berbagai bidang lainnya. Beberapa nama
dapat didaftar sebagai perwakilan, antara lain Sukron Katsir, Asep Fahrizal,
Jonson Harianto, (guru, kepala sekolah), Bahrum Amir, Jefri Medi (pimpinan
perguruan tinggi, pesantren), Sazili Mustofa, Reza Fahlevi, Parwis, Idham
Khalid (guru, penceramah, ahli agama), Mardiyansyah, Tapriansyah (politisi),
Zulfikri, Syaribi Muhammad, Ayubi, Sahrul Rahman, Miftahul Jannah (birokrasi, pegawai
negeri), Muallimin, Aulia Rahman, Akmal, Hendra Bakti, Bibi Hermansyah, Andre
Wardana (TNI, Polri), Fitrianti, Carine Trafettansia, Juniandari, Fajria Rizki Nisa,
Rini Utami (bidan, perawat, dokter), Feri Martedi, Zarkasyi, Windo Putra Wijaya
(pengusaha), Irwanto (wartawan), dan banyak sekali alumni yang berkiprah dengan
berbagai keahlian dan profesi yang tersebar baik di dalam maupun di luar negeri.
Perlu dicatat bahwa keempat
ketegori tersebut, terlihat dengan nyata kesolidan dan peran masing-masing dalam
dua program PB IKAPPI. Pertama, kegiatan Reuni Akbar dan Liga Alumni, November
2016. Pada momen ini berdatangan alumni dari berbagai angkatan, lintas daerah,
provinsi, dan negara. Kedua, pembangunan Gedung Serbaguna Alumni yang
sedang digulirkan melalui Grup Whatsapp Alumni Bersatu di bawah
koordinasi PB IKAPPI. Komitmen alumni dapat dilihat dengan setiap hari selalu ada
“kiriman” dari alumni berpartisipasi dan turut ambil bagian dalam menyukseskan
pembangunan gedung alumni, yang memang merupakan inisiatif dari alumni.
Melalui keempat ketegori alumni
di atas, terlihat dengan jelas ikatan batin antar sesama alumni maupun antara alumni
dengan pondok yang semakin kuat dan solid. Masing-masing kategori, mempunyai
titik temu yang sama yaitu rasa memiliki, perhatian, dan komitmen untuk
berperan serta dalam membangun pondok. Pada ketegori pertama dan kedua, tentu
pengalaman yang mereka peroleh dari luar dapat berguna bagi pengambangan konsep
dan metode pendidikan pondok. Terlebih bagi kategori ketiga yang menjadi
penjaga gawang di pondok. Begitu juga pada yang keempat, peran yang mereka
mainkan di masyarakat sesunguhnya merupakan perpanjangan dari “peran semesta”
yang menjadi visi pondok. Mereka juga diharapkan dapat membuka peluang melalui
perluasan jaringan untuk mengembangkan pembangunan pondok kini, dan di masa
yang akan datang.
***
Menghadapi tuntutan dan tantangan
pendidikan yang semakin dinamis dan kompetitif, alumni menjadi salah satu
indikator penting dari proses dan pencapai yang selama ini dijalankan sebuah
lembaga pendidikan. Dari sisi itu, alumni berfungsi sebagai jaminan dari produk
pendidikan yang dihasilkan Al-Ittifaqiah. Hal ini penting untuk dicermati, mengingat
kepercayaan yang diberikan masyarakat terhadap pesantren salah satunya dilihat
dari kualitas alumni yang dilahirkannya. Dengan kata lain, alumni sesungguhnya
merupakan “brosur berjalan” dari sistem pendidikan yang dikembangkan di pondok.
Kekhasan, keunggulan, dan kualitas pendidikan pondok, dibandingkan dengan
pendidikan yang lain, tercermin dari profil para alumninya.
Keempat ketegori di atas dapat
menjadi langkah awal untuk memetakan potensi alumni serta melihat hubungan
alumni dengan pondok. Komitmen dan rasa memiliki terhadap pondok yang tertanam
dalam diri alumni, akan sangat berguna dalam memperkaya konsep pengembangan
pondok. Pondok secara keseluruhan dapat dimaknai sebagai sebuah proses yang
membentuk dan menghasilkan alumni, maka peran alumni harus diarahkan tidak saja
para proses pembenahan internal pondok, tetapi juga penguatan peran alumni di
masyarakat. Karena itu, diperlukan kolaborasi seluruh alumni untuk membangun
kesadaran dan gerakan kolektif dalam berkontibusi bagi pengembangan pondok,
sekaligus mempertegas peran dan kontribusi pondok bagi umat, bangsa, dan
semesta.
Semangat kolektif alumni tersebut
menemukan konteksnya pada tulisan Mudir Al-Ittifaqiah KH. Mudrik Qori,
berselang tiga menit (07.28) dari lontaran pesan pertama Yurzan di Grup
Alumni Bersatu di atas. Mudir menulis, “Semoga (k)ita semua makin istiqamah
dalam kesadaran: bahwa setiap aktifitas, urusan, tarikan dan hembusan nafas,
hidup dan mati kita, hanya untuk ibadah kepada Allah semata. Sembari kita
tanamkan kesadaran itu pada sebanyak mungkin manusia.”
Mengakhiri tulisan ini, kedua
tulisan yang datang berbarengan tersebut dapat ditafsirkan sebagai pesan (risalah)
bagi keluarga besar alumni Al-Ittifaqiah. Bila dalam tulisan Yurzan, merupakan ucapan
“selamat datang” dibarengi harapan dan do’a bagi kelahiran seorang anak, maka tentu
saja dalam konteks alumni dan pondok, pesan itu ditujukan bagi “generasi baru”
yang akan melanjutkan perjuangan yang telah dibentangkan Al-Ittifaqiah selama
setengah abad. Maka, Mudir memperjelas khittah perjuang tersebut adalah komitmen
untuk membangun kesadaran dan melakukan penyadaran seluas-luasnya, bahwa
seluruh aktifitas kehidupan semata-mata ditujukan sebagai ketundukan dan
penghambaan kepada Allah subhānahu wa ta’āla. Kerangka inilah yang
menjadi penuntun jalan bagi para alumni Al-Ittifaqiah dalam menunaikan tanggung
jawab sejarahnya. Wa Allāhu ‘alam bi al-shawāb.*
* Tulisan dimuat dalam Buletin Tahunan Wafiah Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Edisi Juni 2017 dengan judul "Memetakan Potensi Alumni Al-Ittifaqiah"
** Penulis menyelesaikan pendidikan Tsanawiah (2000) dan Aliah (2003) di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah, pernah menjadi Ketum OSPI (2002-2003) dan Ketum IKAPPI Jakarta (2005-2006).
Comments
Post a Comment